10 Sistem Operasi Smartphone Yang Kini Tinggal Kenangan

10 Sistem Operasi Smartphone yang Kini Tinggal Kenangan


Operation System HP


Bogor, Vjest Media — Kalau sekarang lu mengulik pasar HP, pilihan sistem operasi paling mentok ya dua atau tiga: Android sama iOS., atau mungkin kalau di China ada HarmonyOS
Padahal bro, dunia smartphone dulu itu rame banget!
Sebelum dua raksasa ini nguasain pasar, ada segudang sistem operasi (OS) lain yang pernah nyoba jadi raja—dari yang dipake Nokia, Samsung, sampai BlackBerry.

Sayangnya, gak semua kuat bertahan. Ada yang tumbang karena kalah tren, ada juga yang gagal adaptasi teknologi baru.
Yuk nostalgia bareng! Ini dia 10 sistem operasi smartphone legendaris yang sekarang tinggal kenangan.


1. Symbian – Sang Raja yang Kalah oleh Waktu

Kalo lu sempet ngerasain era Nokia N95, N73, atau E63, berarti lu pernah nyentuh OS paling legendaris ini.
Symbian itu bisa dibilang bapak-nya OS smartphone.
Diciptakan oleh konsorsium perusahaan besar (termasuk Nokia dan Sony Ericsson) di akhir 90-an, Symbian jadi OS paling populer di dunia sebelum Android lahir. Pada awal 2000-an, Symbian adalah sistem operasi utama di banyak smartphone — terutama Nokia

Tapi Symbian punya masalah besar: dia gak siap sama era layar sentuh dan aplikasi modern.
Ketika iPhone dan Android datang dengan tampilan keren dan App Store, Symbian masih sibuk dengan tombol navigasi dan tampilan jadulnya. Puncaknya, Android mulai melejit dan pada Q4-2010 Android berhasil melampaui Symbian dalam unit pengiriman.
Akhirnya, di tahun 2014, Nokia resmi mematikan Symbian setelah 15 tahun berkuasa.

Penyebab: Terlambat beradaptasi ke era touchscreen


2. BlackBerry OS – Dulu Simbol Gengsi, Kini Arsip Sejarah

Dulu bro, punya BlackBerry = gengsi! BBM jadi ikon komunikasi.

Sebelum WhatsApp dan Telegram populer, orang cuma butuh satu hal: PIN BB 😎
BlackBerry OS dulu identik banget sama dunia bisnis dan anak muda elite.
Keunggulannya ada di keamanan dan BBM (BlackBerry Messenger) yang super populer.

Tapi begitu dunia pindah ke layar sentuh dan Android mulai bebas install aplikasi, BlackBerry malah keukeuh pake keyboard fisik dan sistem tertutup.
Mereka akhirnya nyerah dan pindah ke Android di masa-masa terakhirnya, sebelum benar-benar pamit.

Penyebab: Gagal adaptasi ke era layar sentuh dan aplikasi terbuka


3. Windows Phone – Cantik Tapi Sepi

Microsoft pernah punya ambisi besar buat saingan Android dan iOS lewat Windows Phone.
UI-nya unik banget, dengan kotak-kotak tile warna-warni yang kelihatan modern dan rapi.
Sayangnya, ekosistem aplikasinya gak pernah tumbuh.

Developer males bikin aplikasi buat OS yang penggunanya dikit.
Dan tanpa aplikasi populer, pengguna juga malas pindah.
Akhirnya, Microsoft resmi nyerah di 2019, meskipun banyak yang masih kangen tampilan khasnya.

Jadi, meskipun punya potensi, Windows Phone akhirnya gagal mengambil alih.

Penyebab: Minim aplikasi dan gagal tarik minat developer


4. MeeGo – Proyek Cerdas yang Mati Muda

MeeGo lahir dari gabungan dua raksasa: Nokia dan Intel.
Tujuannya keren — bikin OS open source yang ringan dan cepat.
HP Nokia N9 jadi satu-satunya yang make MeeGo, dan tampilannya bahkan jadi inspirasi buat Android modern dan iOS gesture sekarang.

Sayang banget, MeeGo mati muda gara-gara Nokia malah beralih ke Windows Phone.
Padahal kalo diterusin, bisa jadi lawan kuat Android dari awal.

Penyebab: Salah strategi manajemen Nokia


5. Firefox OS – Cita-cita Web yang Gagal Nyala

Mozilla, sang pembuat browser Firefox, pernah coba bikin Firefox OS.
Konsepnya: semua aplikasi berbasis HTML5, jadi HP bisa jalan ringan dan open-source banget.
Tapi performanya lambat, fitur terbatas, dan hardware-nya murah banget, jadinya gak dilirik orang.

Lucunya, dari “abu” Firefox OS ini, lahir OS baru yang masih hidup sampai sekarang, yaitu KaiOS (dipakai di feature phone 4G).

Penyebab: Performa lemah dan hardware murah


6. Palm OS – Smartphone Sebelum Ada iPhone

Jauh sebelum Apple muncul dengan iPhone, Palm OS udah punya konsep smartphone:
bisa catat jadwal, kirim email, dan sync data ke PC lewat kabel.
HP Palm bahkan jadi gadget impian eksekutif tahun 2000-an awal.

Tapi Palm gak bisa beradaptasi pas layar sentuh modern datang, dan akhirnya dijual ke HP (Hewlett-Packard), lalu tenggelam.

Penyebab: Teknologi usang dan kalah inovasi


7. Bada OS – Coba-coba Samsung Sebelum Android

Sebelum One UI, Samsung sempet punya OS sendiri bernama Bada OS, dipake di HP seri “Wave”.
Desainnya keren dan ringan, tapi masalah klasik muncul lagi: minim aplikasi dan dukungan developer.

Akhirnya, Samsung mutusin buat ngegabungin Bada ke proyek Tizen OS, yang juga sekarang udah gak eksis di HP.

Penyebab: Ekosistem kecil dan kalah dari Android


8. Sailfish OS – Pewaris MeeGo yang Masih Napas Tipis

Setelah MeeGo tewas, beberapa eks-karyawan Nokia bikin perusahaan Jolla dan lahirlah Sailfish OS.
Sailfish punya tampilan keren full gesture, tanpa tombol navigasi.
Bisa install aplikasi Android juga (setidaknya dulu).

Basisnya Linux, dan di awal bisa jalanin aplikasi Android juga. Tapi karena skala kecil dan dukungan merek terbatas, Sailfish OS tetap berada di ceruk niche.
Sekarang lebih ke komunitas dan implementasi khusus, bukan OS massal.

Penyebab: Kurang dukungan global dan ekosistem terbatas


9. Tizen OS – Samsung Pengen Mandiri, Tapi Susah Lepas dari Android

Sebelum One UI, Samsung sempet coba “merdeka” dengan Tizen OS.
Tizen sebenernya masih berjaya di segmen smartwatch dan TV Samsung. Tapi meskipun Tizen tetap hidup di TV dan wearable Samsung, versi smartphone-nya gagal besar karena aplikasi dan vendor pendukung sedikit.
Jadi Tizen jadi contoh: walau brand besar ikut, tetap sulit untuk menggoyang duopoli Android/iOS.

Penyebab: Ekosistem terlalu sempit dan pasar gak tertarik


10. Ubuntu Touch – Ide Keren, Pasar Belum Siap

Ubuntu, OS komputer populer, pernah coba masuk dunia HP lewat Ubuntu Touch.
Konsepnya: satu HP bisa jadi PC kalau dicolok monitor — satu perangkat untuk semua kebutuhan!
Tapi sayangnya, performa gak stabil dan harganya mahal banget.

Sekarang proyek ini dilanjut komunitas, tapi udah gak relevan di pasar mainstream.

Penyebab: Gagal secara komersial & minim dukungan produsen


OS yang Masih “Napas Tipis”

Selain 10 OS di atas, masih ada beberapa yang “belum mati total”, tapi udah kehilangan sorotan:

1. KaiOS – Feature Phone yang Justru Masih Hidup

Meskipun bukan “smartphone” penuh layar sentuh ala modern, KaiOS pantas masuk daftar karena ini OS yang lahir dari proyek Firefox OS dan makin populer di feature phone 4G.

Dirilis 2017 oleh KaiOS Technologies.
Menariknya: OS ini masih punya “pasar sendiri” besar di negara berkembang – jadi dia bukan dulu dan mati, tapi “tinggal di ceruk”. Sistem buat perangkat sederhana, bukan full smartphone.

Contoh feature phone yang pakai OS ini kayak Nokia 8110 dan JioPhone.


2. Sailfish OS – Pewaris Proyek MeeGo, Tapi Tak Pernah Besar

Sailfish OS dibuat oleh perusahaan Finlandia Jolla Ltd. sebagai kelanjutan dari proyek MeeGo (kerjasama Nokia + Intel). Versi beta pertama dirilis tahun 2013 bersama Jolla Phone.
Sailfish OS memakai kernel Linux, UI gesture-based, dan mendukung menjalankan aplikasi Android (pada versi tertentu) agar lebih kompatibel.
Meskipun terus dirilis: versi 4.6 diumumkan 2024.

Kenapa “masih napas tipis”?

  • Sailfish tidak mendapat adopsi besar dari produsen HP mainstream.

  • Ekosistem aplikasi sangat kecil dibanding Android/iOS.

  • Fokus lebih ke komunitas dan perangkat niche (untuk penggemar teknis) daripada pasar massal.

  • Jadi meskipun secara teknis masih ada, pengaruhnya sangat terbatas.


OS Yang Bakal Jadi Penguasa Semua Smartphone

Selain OS HP yang sudah punah maupun yang masih bertahan, ada juga OS HP yang baru tumbuh alias sedang dikembangkan di China, ia adalah:

HarmonyOS – Tandingannya Android, Tapi Masih Terbatas

OS ini dikembangkan oleh Huawei Technologies Co., Ltd. (China) sebagai upaya untuk membangun sistem sendiri terlepas dari Google/Android. Versi awalnya diumumkan sekitar tahun 2019. 

Versi “NEXT” (yang benar-benar mikro­kernel dan tak lagi berbasis Android) secara resmi mulai muncul dalam laporan 2024. HarmonyOS dirancang agar “terdistribusi” di berbagai perangkat — bukan hanya smartphone, tetapi juga tablet, wearable, TV, IoT.

Kenapa belum merambah di pasar global?

  • Karena tahap pengembangan dan peluncuran yang masih berfokus di China, 

  • Ketergantungan pada ekosistem aplikasi yang belum sepenuhnya matang untuk pasar global, dan HarmonyOS punya adopsi cukup besar (HP Huawei, IoT)

  • Di pasar global, versi yang benar-benar native (non-Android) belum meluas — banyak perangkat Huawei global masih menggunakan Android/AOSP dengan UI Harmony-style.

  • Tantangan adopsi di luar Tiongkok, migrasi ekosistem aplikasi, dukungan global, dan persaingan dengan Android/iOS.

  • HarmonyOS (Huawei) → fokus di China, sementara versi global-nya masih adaptasi


Dunia Smartphone Dulu Lebih Warna-warni

Kalau sekarang kita cuma kenal Android dan iOS, itu karena dua OS ini berhasil menyatukan ekosistem dan ngasih kenyamanan pengguna.
Tapi di balik kesederhanaan itu, sejarah dunia smartphone nyimpen banyak kisah seru: inovasi, kegagalan, dan ambisi yang terlalu cepat datangnya.

Jadi, buat lu yang dulu pernah punya Nokia Nseries, BB Bold, atau Samsung Wave — selamat, lu pernah hidup di masa paling berwarna dalam sejarah teknologi mobile. 


Mau Nostalgia HP Lama Tapi dengan Rasa Modern?

Kadang yang lawas tuh bukan berarti kalah — siapa tau nanti bakal lahir OS baru yang ngalahin Android dan iOS?
Tapi untuk sekarang… ya udah, nikmatin aja si Android yang setia nemenin tiap hari 😄


 Sumber: Inilah.com dan Youtube QuickTechID

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUTE ANGKUTAN UMUM KOTA & KABUPATEN BOGOR

Peluncuran KA Jakalalana, Kereta Wisata Baru yang Siap Mengguncang Jalur Jakarta–Cianjur